Kenapa dengan orang miskin? Kenapa kita tidak boleh meremehkan orang miskin? Apa kriteria Orang miskin? Apakah saya termasuk orang miskin? Beberapa pertanyaan itu muncul setelah mendengar cerita istri saya tentang acara di Metro TV semalem yang mengupas tentang kehidupan sosial.
Kenapa kita tidak boleh meremehkan orang miskin? Karena sebenarnya orang miskin yang tidak punya cukup harta itu belum tentu tidak bahagia dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Coba kita bayangkan, seorang Tukang Becak yang kerjanya pagi-siang-malam demi sesuap nasi untuk keluarganya bisa bertahan hidup dengan penuh kebahagiaan. Kenapa bisa bahagia? Karena mereka selalu bersyukur terhadap apa-apa yang diberikan oleh Alloh kepadanya.
Mungkin, dalam benak kita, hidup itu yang penting cukup (cukup punya mobil 3, cukup punya rumah 2, cukup punya perusahaan 5 hehe–bukan itu maksudnya). Cukup yang saya maksudkan adalah cukup dalam hati kita. Okelah kalau Anda mungkin tidak sependapat dengan saya karena memang hidup itu butuh materi untuk memenuhi segala sesuatu. Namun sebenarnya materi itu bisa menjadi bumerang bagi pemiliknya sendiri.
Bagi orang miskin mungkin tidak akan memikirkan bagaimana caranya muter uang supaya menjadi berlipat ganda. Mereka tidak membutuhkan pemikiran seperti itu, dan biasanya mereka gunakan waktu luang selepas bekerja untuk bersendau gurau dengan keluarga dan merasa bahagia karena besok masih bisa makan sisa hari ini. Hal ini tentunya berbeda dengan orang yang mempunyai banyak limpahan materi. Mereka selalu memikirkan bagaimana supaya uang tabungannya bisa berputar untuk menghasilkan uang yang lebih banyak, bagaimana mengawasi karyawan-karyawannya. Mereka mungkin bekerja pagi-siang-malam-larut malam-dini hari-menjelang fajar-subuh-pagi hari lagi….Bahkan bisa sampai kebawa mimpi memikirkan uangnya.
Intinya, apabila kita sudah merasa bukan orang miskin, jangan pernah meremehkan orang miskin, karena bisa jadi mereka (orang miskin) lebih bahagia dari pada kita. Saya sendiri saat ini juga belum kaya, rumah masih ngontrak. Semoga saja Andaikan saya menjadi orang kaya, saya bisa sebahagia orang miskin yang bahagia.
Meskipun demikian, menjadi orang kaya itu juga enak. Mau apa-apa tinggal gesek, mau jalan-jalan, tinggal bawa mobil, tidak pusing soal tempat tinggal. Kalau susah capek bekerja tinggal mencari pegawai untuk menjalankan usahanya. Intinya adalah, Kaya atau Miskin itu yang penting Bahagia. Jadilah Orang Kaya yang Bahagia dan kalau ditakdirkan sebagai Orang Miskin, jadilah Orang Miskin yang Bahagia dengan kata lain “Kerjo Mempeng Tirakat Banter dan jangan lupa Bersyukur”
Oiya…S E L A M A T T A H U N B A R U 2009



January 5th, 2009 at 3:53 pm
wah saya muter-muter duit tuh bos biar tabungan penuh wekekkekke….tapi saya bahagia karena uangnya nantinya akan saya buat untuk membuat orang lain tertawa dan tersenyum bahagia
January 5th, 2009 at 10:45 pm
miskin tapi rajin saya bangga meliatnya, tapi dah miskin tapi belagu dan malas ahh tidakkk
January 6th, 2009 at 3:16 am
Yang dipermasalahkan nanti di “sana” bukan seberapa banyak harta yang kamu punyai, tapi untuk apa harta itu…
Kalo saya sih, semoga bisa membuat orang lain tertawa bahagia dengan harta yang saya miliki.
January 6th, 2009 at 5:44 am
Ho oh mas, yang penting bahagia, punya segalanya ataupun ga punya segalanya itu ga penting, yang penting adalah bahagia, bahagia yang hakiki, tanpa bersandar pada apapun selain diri-Nya
January 6th, 2009 at 9:08 am
@bocah : jangan keseringen muter, ntar pusing loh…
@geblek : benul mas joko..
@rystiono : bener, harta kita sesunggunya adalah harta yang sudah digunakan di jalan-Nya…sip..
@eko : bahagia bisa kenal dengan orang-orang baik di madiun…:)
January 6th, 2009 at 4:11 pm
miskin asal bahagai, halal, sehat wal afiat
selamat tahun baru kang
January 7th, 2009 at 7:09 am
hehe….kalau aku milih..kaya dan bahagia …hehe..:) selamat tahun baru juga
January 9th, 2009 at 1:10 pm
setuju dah hehehe… *bingung komen apa
pokoke setuju
*